TANGERANG.WAHANANEWS.CO — Bulan Suci Ramadan identik dengan tradisi berburu takjil menjelang berbuka puasa.
Di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, deretan pedagang takjil tampak ramai diserbu pembeli. Namun, di balik keramaian tersebut, tidak semua pedagang merasakan lonjakan omzet yang signifikan.
Baca Juga:
Kejari Gunungsitoli Bersama Kodim Nias dan PLN Kompak Bagi-bagi Takjil Gratis ke Warga
Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pedagang, Sudarwati (52). Ia mengungkapkan bahwa omzet yang ia peroleh tahun ini masih berada di bawah Rp1 juta per hari. Padahal, pada tahun 2022 lalu, pendapatannya sempat menembus lebih dari Rp1 juta dalam sehari.
“Sekarang pedagang makin banyak, jadi pembeli terbagi. Omzetnya belum bisa seperti dulu,” ujar Sudarwati, dikutip Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, meningkatnya persaingan di antara pedagang menjadi faktor utama turunnya pendapatan. Selain itu, kenaikan harga bahan pokok di pasar seperti cabai, bawang, dan kebutuhan dapur lainnya turut memperbesar modal usaha.
Baca Juga:
Wujud Kepedulian di Bulan Ramadhan, Kapolres Subulussalam Bagikan Takjil Buka Puasa untuk Tahanan
Akibatnya, keuntungan yang diperoleh pun semakin tipis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Meski awal Ramadhan diwarnai cuaca hujan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Sudarwati untuk tetap berjualan. Ia mengaku, hujan tidak terlalu mempengaruhi jumlah pembeli karena antusiasme masyarakat tetap tinggi untuk membeli takjil. “Hujan tetap ada yang beli. Alhamdulillah masih ramai,” katanya.
Dalam menjalankan usahanya, ia mengaku memegang prinsip yang disebut sebagai “2M”, yakni Mulut dan Meja. Menurutnya, mulut berarti keramahan dalam menawarkan dagangan kepada pembeli, sementara meja berarti menjaga tampilan dagangan tetap rapi, bersih, dan menarik.“Kalau kita ramah dan meja jualan rapi, pembeli jadi nyaman,” tuturnya.
Setiap hari, ia pun mulai mempersiapkan bahan dan memasak sejak siang hari, lalu berjualan hingga menjelang magrib. Baginya, Ramadhan bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang keberkahan.
“Semoga apa yang saya jual di bulan suci ini jadi berkah dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” harapnya.
Adapun diketahui, tradisi ngabuburit dan membeli takjil sendiri sudah menjadi kebiasaan rutin masyarakat setiap Ramadhan. Aneka gorengan, lontong, kolak, bubur candil, serta berbagai macam es masih menjadi menu favorit yang selalu dicari.
Meskipun ditengah kenaikan harga bahan pokok dan ketatnya persaingan, para pedagang tetap berharap momen Ramadhan menjadi momentum perputaran ekonomi yang membawa keberkahan, meski omzet belum kembali seperti puncaknya pada 2022.
[Redaktur: Mega Puspita]