WAHANANEWS.TANGERANG — Arus urbanisasi pasca Lebaran 2026 mulai terasa hingga tingkat lingkungan di kawasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Sejumlah pengurus RT dan RW mencatat adanya penambahan warga baru dalam dua pekan setelah Idul Fitri, seiring kembalinya aktivitas kerja di wilayah Jabodetabek.
Di RW 05 Kelurahan Ciputat, misalnya, pengurus setempat mencatat sedikitnya 18 kepala keluarga (KK) baru yang melapor sebagai pendatang sejak H+7 Lebaran. Sementara di RT 03 RW 02, tercatat sekitar 11 KK tambahan yang sebagian besar menempati rumah kontrakan dan kos-kosan.
Baca Juga:
Atraksi Wushu dan Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek, UMKM Panen Omzet
Ketua RW 05, Slamet Riyadi (47), mengatakan bahwa tren ini terjadi setiap tahun, namun pola tahun ini sedikit berbeda.
“Kalau dulu banyak yang datang dari kampung jauh, sekarang lebih banyak dari sekitar Jabodetabek juga. Mereka kerja di Jakarta, tapi tinggalnya di sini,” ujarnya saat ditemui, Senin (27/4/2026).
Fenomena serupa juga terlihat di RW 08, yang mencatat sekitar 23 pendatang baru (±7 KK), didominasi pekerja sektor informal dan karyawan swasta. Mayoritas dari mereka datang bersama keluarga atau menyusul kerabat yang lebih dulu menetap.
Baca Juga:
Pesta Miras Dini Hari Dibubarkan, 12 Remaja Diamankan Polisi
Ketua RT 03 RW 02, Nur Aisyah (43), menjelaskan bahwa sebagian besar pendatang memilih Ciputat karena faktor ekonomi.
“Rata-rata alasannya karena sewa di Jakarta mahal. Di sini masih bisa dapat kontrakan yang lebih terjangkau, walaupun harus bolak-balik kerja,” katanya.
Berdasarkan pendataan sementara tingkat RT/RW di beberapa titik Ciputat, total penambahan penduduk pasca Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 40 hingga 70 KK dalam satu kelurahan. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan mobilitas penduduk, meskipun secara makro urbanisasi ke Jakarta justru menurun.
Secara umum, tren urbanisasi 2026 di kawasan Jabodetabek berada pada kisaran 9.089 hingga 12.000 jiwa atau sekitar 2.500 hingga 3.500 KK, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 3.000 hingga 4.000 KK.
Namun, penurunan ini diiringi dengan pergeseran lokasi tujuan, dari Jakarta ke wilayah penyangga seperti Tangerang Selatan.
Pengamat perkotaan, Dr. Maya Prasetyo (38), menilai data di tingkat RT/RW tersebut menunjukkan perubahan struktur urbanisasi yang semakin nyata.
“Sekarang urbanisasi itu tidak selalu terlihat di Jakarta. Justru di wilayah seperti Ciputat, dampaknya lebih terasa karena menjadi tempat tinggal para komuter,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah penduduk di tingkat lingkungan perlu diantisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah.
Sementara itu, pihak kelurahan mengimbau seluruh pendatang untuk melapor kepada RT/RW setempat guna memastikan tertib administrasi kependudukan. Pendataan ini dinilai penting untuk memantau pertumbuhan penduduk sekaligus mencegah munculnya permasalahan sosial di kemudian hari.
Dengan tren yang terus berulang setiap tahun, Ciputat kini tidak hanya menjadi kawasan hunian alternatif, tetapi juga bagian penting dari dinamika urbanisasi baru di wilayah metropolitan Jabodetabek.
[Redaktur: Mega Puspita]