Secara umum, tren urbanisasi 2026 di kawasan Jabodetabek berada pada kisaran 9.089 hingga 12.000 jiwa atau sekitar 2.500 hingga 3.500 KK, lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 3.000 hingga 4.000 KK.
Namun, penurunan ini diiringi dengan pergeseran lokasi tujuan, dari Jakarta ke wilayah penyangga seperti Tangerang Selatan.
Baca Juga:
Atraksi Wushu dan Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek, UMKM Panen Omzet
Pengamat perkotaan, Dr. Maya Prasetyo (38), menilai data di tingkat RT/RW tersebut menunjukkan perubahan struktur urbanisasi yang semakin nyata.
“Sekarang urbanisasi itu tidak selalu terlihat di Jakarta. Justru di wilayah seperti Ciputat, dampaknya lebih terasa karena menjadi tempat tinggal para komuter,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah penduduk di tingkat lingkungan perlu diantisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah.
Baca Juga:
Pesta Miras Dini Hari Dibubarkan, 12 Remaja Diamankan Polisi
Sementara itu, pihak kelurahan mengimbau seluruh pendatang untuk melapor kepada RT/RW setempat guna memastikan tertib administrasi kependudukan. Pendataan ini dinilai penting untuk memantau pertumbuhan penduduk sekaligus mencegah munculnya permasalahan sosial di kemudian hari.
Dengan tren yang terus berulang setiap tahun, Ciputat kini tidak hanya menjadi kawasan hunian alternatif, tetapi juga bagian penting dari dinamika urbanisasi baru di wilayah metropolitan Jabodetabek.
[Redaktur: Mega Puspita]